Beranda » Uncategorized » Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 

1.      Informasi yang dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan pendidikan.

2.      Inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-learning yang semakin memudahkan proses pendidikan.

3.      Kemajuan TIK juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan sang pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan.

4.      Sistem administrasi pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem TIK.

Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 

1.      Kemajuan TIK juga akan semakin mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya mengakses data menyebabkan orang yang bersifat plagiatis akan melakukan kecurangan.

2.      Walaupun sistem administrasi suatu lembaga pendidikan bagaikan sebuah system tanpa celah, akan tetapi jika terjadi suatu kecerobohan dalam menjalankan sistem tersebut akan berakibat fatal.

3.     Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention).

Bandung ( Berita ) :  Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyatakan, pengguna internet di Indonesia masih belum serius memanfaatkan kekuatan teknologi itu untuk kegiatan produktif. Sebagai pembicara kunci dalam seminar “Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indonesia 2012″ di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu [25/04] , Tifatul mengatakan, internet sebagian besar digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk Game Online, chatting, dan juga jaringan sosial dunia maya.

“Sejak tahun 2000 sampai sekarang ini perkembangan internet di Indonesia mencapai lebih dari 400 persen. Namun, sayangnya penggunanya lebih banyak yang belum serius,” ujarnya. Padahal, kata Tifatul, pengguna internet yang belum serius tersebut telah menyita spektrum jaringan internet yang begitu besar dengan jumlah kanal yang terbatas. “Tuntutannya juga banyak, terutama masalah layanan data yang lambat. Padahal hanya digunakan untuk main-main, padahal sebenarnya bisa digunakan untuk riset dan kegiatan ekonomi,” tuturnya.

Para pengguna internet itu, menurut dia, menuntut agar disediakan layanan data yang cepat melalui spektrum yang lebih lebar, keamanan, dan juga kenyamanan selama berselancar di dunia maya. Padahal, lanjut Tifatul, pembangunan infrastruktur internet tidak bisa dilakukan secara cepat untuk mengejar pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. “Pengguna internet tumbuh cepat sekali dari tadinya cuma 2 juta orang, tahu-tahu menjadi 28 juta dan tumbuh lagi menjadi 45 juta orang, sementara jaringan tidak bisa dibangun secepat itu,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Tifatul, pemerintah tidak hanya bisa memusatkan pembangunan jaringan internet di kota-kota besar karena harus mempertimbangkan pemerataan sampai ke daerah yang terpencil. Melalui program Indonesia pintar, ia menyebutkan saat ini 5.748 kecamatan di Indonesia telah tersambung dengan internet. Tifatul mengatakan, pemerintah memfokuskan pembangunan jaringan internet di daerah terpencil melalui program perintis yang dibiayai dengan anggaran negara. Sedangkan untuk pembangunan jaringan internet di kota-kota besar lebih diserahkan kepada penyedia jasa yang beroperasi dengan basis keuntungan.

Rektor Institut Teknologi Bandung  Akhmaloka menyatakan Indonesia jangan menjadi konsumen pasif yang hanya mengikuti perkembangan teknologi informasi (TI).

Dalam sambutannya pada acara seminar “Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indonesia 2012″ di Aula Barat, ITB, Rabu, Akhmaloka mengatakan Indonesia juga harus turut serta menentukan arah perkembangan TI yang semakin pesat. “Jangan cuma setiap bulan ganti-ganti ‘handphone’, tapi harus berpartisipasi untuk mengarahkan perkembangan teknologi itu,” ujarnya. Apabila Indonesia hanya menjadi konsumen pasif, lanjut dia, maka akan terombang-ambing dalam perkembangan TI yang semakin maju dan akhirnya tidak bisa mengambil manfaat dari perkembangan teknologi tersebut. “Jangan sampai cuma mengonsumsi teknologi sehingga hanya dibingungkan saja,” katanya.

Menurut Akhmaloka, adalah tugas perguruan tinggi untuk membangun budaya riset agar Indonesia bisa mengejar perkembangan TI yang luar biasa dan pada akhirnya mampu untuk ikut menentukan arah perkembangan teknologi tersebut. “Perkembangan teknologi itu sangat cepat, luar biasa. Jangan sampai kita tidak bisa ikut tentukan arahnya,” katanya.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam sambutan peresmian seminar menyampaikan harapannya agar perguruan tinggi seperti ITB dan juga universitas lainnya dapat berkembang menjadi lembaga riset yang menghasilkan produk berteknologi tinggi. Ia mencontohkan lembaga riset Research in Motion (RIM) di Kanada yang akhirnya bisa berkembang menjadi perusahaan besar karena penemuan produk Blackberry yang mendunia. Pada seminar tersebut, juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan beberapa perguruan tinggi di antaranya Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Universitas Indonesia, Universitas Andalas, dan Universitas Gadjah Mada, untuk program beasiswa S2.

Perkembangan IT di Indonesia dibanding dengan negara lain

Indonesia Internet Exchange Pertumbuhan jaringan Internet di Indonesia, seklaian masih dalam tahap awal dan belum memasyarakat seperti halnya di negara-negara maju, menunjukan trend yang sangat positif. Potensi pengguna yang begitu besar dari penduduk Indonesia yang pada saat ini (Juli 1997) berjumlah sekitar 200 juta jiwa tidak dapat diabaikan begitu saja. Pemerintah telah mengeluarkan 41 ijin prinsip kepada berbagai perusahaan yang berminat menyelenggrakan jasa Internet ini. Untuk dapat mengembangkan pasar yang besar ini, salah satu prasyarat adalah dibentuknya suatu interkoneksi nasional antar penyelenggara jasa Internet (PJI) di Indonesia, sehingga pelanggan dari satu PJI dapat dengan mudah dan murah berkomunikasi dengan pelanggan PJI lain yang berada di Indonesia. Tanpa adanya interkoneksi nasional ini, kecepatan lalulintas informasi antar PJI di Indonesia akan sepenuhnya tergantung pada interkoneksi Internet di luar negeri, yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh PJI Indonesia Dengan adanya tulang punggung lalulintas informasi nasional yang pengembangannya dapat dikelola oleh PJI Indonesia, berbagai manfaat yang dapat diperoleh antara lain :

• Merupakan jalur yang relatif lebih murah dibandingkan menggunakan tulang punggung  jaringan Internet di negara lain(yang tentunya ingin mengambil keuntungan dari penggunaan
fasilitasnya).

• Merupakan jalur alternatif bagi sebuah PJI apabila jalur koneksi ke Internet yang dimilikinya (langsung ke luar negeri) mengalami masalah.

• Lebar pita (bandwidth) yang tinggi antar PJI Indonesia akan memberikan insentif bagi penyedia informasi (content provider) menempatkan basis datanyan di Indonesia, baik bagi penyedia informasi lokal maupun internasional.

• Interkoneksi nasional ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan layanan-layanan baru yang membutuhkan lebar pita yang tinggi, yang mungkin tidak dapat direalisir apabila mengandalkan interkoneksi melalui negara lain yang biayanya relatif tinggi.

Pada saat ini konektivitas PJI ke Internet melalui INP Indosat, sebagian melalui INP Satelindo, sebagian terhubung langsung super ISP di luar negeri. Secara teknis sudah ada interkoneksi antar pelanggan INP Indosat melalui Indosat dan antar pelanggan INP SatelindomelaluiSatelindo. Meski demikian belum ada inisiatif untuk membuat interkoneksi naasional. Untuk membantuk interkoneksi nasional ini, APJII berinisiatif meluncurkan program Indonesia Internet Exchange (IIX), yang diharapkan dapat dijadikan titik awal pengembangan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan pertumbhan Internet Indonesia.

Indonesia Network Information Center. Dengan pertumbuhan jaringan Internet yang cukup pesat, kebutuhan untuk mengorganisir informasi jaringan secara baik dan berkesinambungan sangan diperlukan. Tanpa adanya basis informasi jaringan yang dikelola dengan baik, pertumbuhan Internet di Indonesia akan terhambat, bahkan dapat menimbulkankekacauan yang mengganggu stabilitas jaringan Internet secarakeseluruhan. Pengelolaan informasi nasional adalah tanggungjawab yang harus kita pikul demi nama baik bangsa Indonesia. Di negara-negara lain, pusat informasi jaringan yang lebih di kenal sebagai “Country NIC” telah banyak dikembangkan. Karena latar belakang pertumbuhan Internet yang cukup beragam disetiap negara, pusat informasi jaringan di suatu negara bisa saja dikelola oleh swasta, akademi atau pemerintah. Di kawasan Asia telah dikenal adanya JP-NIC (Jepang) yang didukung oleh PJI PJI di Jepang, TW-NIC (Taiwan) yang dikelola oleh Pusat Komputer Kementrian Pendidikan Taiwan, KR-NIC (Korea) yang disponsoro oleh National Computerization Agency, dan SG-NIC(Singapura) yang dikelola oleh National Computer Board milik Pemerintah Singapura. Peranan dan lingkup kerja dari country NIC juga bisa berbeda di setiap negara. Ada yang terfokus pada pembagian alamat IP, pendaftaran dan pengelolaan domain, ataupun informasi-informasi lain yang relevan. Untuk Indonesia, fungsi pendaftaran dan pengelolaan domain TLD-ID Country (Top Level Domain yang menandakan negara Indonesia) sudah dipelopori oleh Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia (PUSILKOM UI). Indonesia Network Information Center (ID-NIC) adalah inisiatif yang didukung sepenuhnya oleh APJII dengan tujuan tersedianya pengelolaan informasi jaringan nasional yang mandiri dan berkelanjutan. I D-NIC akan mengembangkan fungsi dan peranannya dalam penyediaan informasi jaringan di Indonesia, sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri maupun untuk kepentingan masyarakat Internasional. D irektori Internet Indonesia adalah fasilitas untuk mencarai informasi mengenai jaringan-jaringan di Indonesia, namanamapersonalia yang bertanggungjawab atas pengelolaan jaringan tersebut, serta informasi yang dapat membantu berbagai pihak mengetahui lebih lanjut mengenai jaringan Internet di Indonesia. Dalam terminology popular, basis data ini lebih dikenal sebagai ‘whois database’. A P JII, melalui program ID-NIC akan membuat ‘whois database’ sebagai langkah awal inventarisasi informasi jaringan internet di Indonesia.

Pusat informasi yang akan dikembangkan dalam program IDNIC akan terus dikembangkan sehingga mencakup fasilitasfasilitas yang lebih luas, misalnya search engine, direktori industri, pusat pertukaran informasi, dan layanan lain yang bermanfaat bagi seluruh PJI dan pengguna Internet di Indonesia. Program-program lanjutan akan dikomunikasikan ke masyarakat untuk mendapatkan umpan balik, sehingga prioritas dapat diberikan pada hal-hal yang mempunyai dampak terbesar bagi publik.

Annual Indonesian Scholars Conference in Taiwan (AISC-Taiwan) Di abad ini dunia memasuki era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy), dimana pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan suatu bangsa amatdipengaruhi oleh kemampuannya menguasai & mengkapitalisasi ilmu pengetahuan & teknologi. Era ini juga diwarnai oleh makin kuatnya kecenderungan sistem terbuka yang menimbulkan persaingan global, sehingga syarat mutlak suatu bangsa agar survive dan unggul di setiap lini persaingan adalah meningkatkan daya saing bangsanya (national competitiveness). Salah satu faktor utama yang bisa meningkatkan daya saing bangsa adalah peningkatan investasi dan perbaikan kualitas pengembangan SDM dan penelitian. Indonesia sebagai negara berkembang dengan kekayaan alam yang melimpah membutuhkantenaga terampil berbasis pengetahuan yang mampu mengelola, meningkatkan nilai ekonominya, dan memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dalam hal keamanan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, pertanian, industri, infrastruktur, dan sektor lainnya. Namun permasalahan besar yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM dan penelitian masih dihadapi Indonesia hingga kini. Indikator itu terlihat dari masih rendahnya investasi pengembangan SDM dan penelitian jika dilihat dari indikator jumlah penelitian dan pengembangan beserta outcomes-nya sebagaimana dilaporkan ADB tahun 2003.

Kondisi diatas berkorelasi positif terhadap peringkat daya saing bangsa yang masih rendah dibanding dengan negara-negara lain. Rendahnya daya saing bangsa Indonesia itu juga bisa dilihat dari angka Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan UNDP, dimana menempatkan Indonesia di urutan 107 dari 177 negara. Persoalan ini perlu segera dipecahkan jika bangsa Indonesia tidak ingin tertinggal dan tergilas oleh perubahan jaman yang begitu cepat. Langkah strategis telah dilakukan pemerintah dalam upaya peningkatan daya saing bangsa, diantaranya adalah peningkatan anggaran pendidikan hingga mencapai 20% (APBN 2009-2010), penyempurnaan sistem pendidikan nasional, dan peningkatan anggaran penelitian, walaupun angkanya masih jauh dari nilai anggaran riset yang dikeluarkan oleh negara-negara tetangga. Meskipun kebijakan yang diambil pemerintah masih jauh dari kata ideal sebagaimana diharapkan seluruh elemen bangsa, tapi sebagai anak bangsa kita tidak boleh hanya mengkritik pada setiap kebijakan yang dijalankan tanpa ikut berkontribusi pada berbagai peran & posisi yang memungkinkan. Sebagai kalangan akademis diluar negeri, baik itu pelajar maupun yang bekerja pada sektor-sektor strategis, memiliki peran yang penting untuk ikut memacupeningkatan daya saing bangsa. Salah satunya adalah berpartisipasi dalam penguatan dan akselerasi riset nasional sehingga mampu menjadi penyokong perkembangan industri nasional yang berbasis ilmu pengetahuan & teknologi yang dikembangkan oleh bangsa sendiri.

Aksi itu telah dimulai, diantara dengan munculnya Ikatan Ilmuwan Indonesia International (I-4), dan berbagai kajian keilmuan yang dimotori oleh para pelajar Indonesia dibelbagai negara tempat mereka menuntut ilmu. Sebagai bagian dari elemen bangsa yang punya rasa tanggungjawab dan komitmen tinggi terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa, maka Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT) bertekad mengambil bagian dalam gerakkan itu dengan menginisiasi sebuah forum ilmiah yang diharapkan hasilnya mampu menjadi pemicu peningkatan kualitas riset nasional dan percepatan kapitalisasi ilmu pengetahuan yang berujung pada naiknya pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan danpemerataan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dan ikut membangun bangsa Indonesia menjadibangsa yang bermartabat dan diperhitungkan dalam percaturan dunia.

KESIMPULAN

Menurut saya, perkembangan IT di Indonesia sangat cepat. Anak kecil zaman sekarang ini sudah bisa menggunakan IT mulai dari anak SD bahkan TK dan bahakan anak umur 2 tahun pun bisa, entah itu Hp ataupun laptop dan internet,  berbeda dengan zaman saya kecil dulu pengenalan IT baru diperkenalkan ketika menginjak kelas 5 SD. Dan sekarang hampir semua anak Indonesia mengerti bagaimanan menggunakan IT, hampir semuanya punya salah satu alat IT, baik kalangan atas-menengah-bahkan kecil, dewasa-muda-anak-anak. Namun dalam pemanfaatannya menurut saya kurang, karena kebanyakan hanya sering digunakan untuk membuka akun-akun jejaring sosial saja, hanya orang-orang tertentu saja yang memanfaatkannya untuk sebuah bisnis, meskipun terkadandg penipuan terjadi dan itu yang mengharuskan kita untuk mengerti IT dan berhati-hati dalam penggunaannya.

About these ads

2 thoughts on “Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s